Harga Ayam Hidup Terus Merosot, Kementan Percepat Penyerapan Livebird Peternak
FaktaSehari – Harga ayam hidup di tingkat peternak kembali mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena harga jual di sejumlah daerah telah berada di bawah biaya pokok produksi. Ketidakseimbangan antara pasokan dan daya serap pasar menjadi penyebab utama penurunan harga tersebut. Menyikapi situasi ini, Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil berbagai langkah untuk membantu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi keberlangsungan usaha peternak ayam di Indonesia. Salah satu kebijakan yang didorong adalah peningkatan penyerapan ayam hidup atau livebird secara langsung dari peternak.
Pasokan Berlebih Menekan Harga Ayam Hidup di Pasar
Menurut hasil pemantauan pemerintah, produksi ayam hidup saat ini masih lebih tinggi dibandingkan kebutuhan pasar. Akibatnya, pasokan yang melimpah membuat harga jual terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan peternak, terutama pelaku usaha skala kecil yang sangat bergantung pada harga harian. Apabila situasi ini berlangsung dalam waktu lama, banyak peternak berpotensi mengalami kerugian yang semakin besar sehingga keberlangsungan usaha menjadi terancam.
Kementan Dorong Penyerapan Livebird dari Peternak
Sebagai langkah cepat, Kementerian Pertanian mengimbau pelaku usaha perunggasan agar meningkatkan penyerapan livebird langsung dari peternak. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi kelebihan pasokan di tingkat produksi sehingga harga ayam hidup dapat kembali bergerak ke level yang lebih sehat. Selain itu, peningkatan penyerapan juga diharapkan menjaga arus distribusi tetap berjalan dengan baik tanpa menimbulkan penumpukan stok di kandang peternak.
Pemerintah Terbitkan Surat Himbauan Stabilisasi Pasar
Untuk memperkuat kebijakan tersebut, pemerintah menerbitkan sejumlah surat himbauan yang berisi langkah-langkah pengendalian produksi serta stabilisasi harga. Dokumen tersebut menjadi pedoman bagi pelaku usaha agar menjalankan komitmen menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Dengan adanya koordinasi yang lebih baik, pemerintah berharap seluruh pihak dapat berkontribusi dalam memperbaiki kondisi industri perunggasan nasional yang saat ini sedang menghadapi tekanan pasar.
Pengendalian Produksi DOC Menjadi Bagian Strategi
Selain meningkatkan penyerapan ayam hidup, pemerintah juga mendorong pengendalian produksi Day Old Chick (DOC) Final Stock broiler. Kebijakan ini bertujuan menyesuaikan jumlah bibit ayam yang diproduksi dengan kebutuhan pasar. Melalui pengaturan tersebut, rantai pasok di sektor perunggasan diharapkan menjadi lebih seimbang. Jika produksi dapat dikendalikan dengan baik, risiko kelebihan pasokan pada masa mendatang juga dapat diminimalkan sehingga harga tetap stabil.
Baca Juga : Harga Resmi GTA 6 Akhirnya Terungkap Jelang Dibukanya Pre-Order
Kolaborasi Seluruh Pelaku Usaha Sangat Dibutuhkan
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa keberhasilan menjaga stabilitas sektor perunggasan tidak dapat dicapai hanya melalui kebijakan pemerintah. Dukungan dari perusahaan integrator, peternak mandiri, distributor, hingga pelaku perdagangan memiliki peran yang sama pentingnya. Kerja sama yang baik akan membantu menciptakan mekanisme pasar yang lebih sehat. Selain itu, koordinasi antarpelaku usaha dapat mempercepat implementasi berbagai langkah stabilisasi yang telah disepakati bersama.
Data Perunggasan Akurat Menjadi Fondasi Kebijakan
Pemerintah juga menilai bahwa data perunggasan yang akurat merupakan faktor penting dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran. Sinkronisasi data antara pemerintah pusat dan daerah akan mempermudah proses pemantauan produksi, distribusi, hingga kebutuhan pasar. Dengan informasi yang lebih lengkap, kebijakan pengendalian produksi maupun stabilisasi harga dapat dilakukan secara lebih efektif. Oleh sebab itu, dinas terkait di berbagai daerah diharapkan berperan aktif dalam menyediakan data yang valid dan terintegrasi.
Peternak Mengeluhkan Harga Jual yang Terus Menurun
Di lapangan, para peternak mengaku menghadapi situasi yang semakin sulit. Harga ayam hidup di beberapa wilayah bahkan dilaporkan turun hingga sekitar Rp13.000–Rp14.000 per kilogram. Angka tersebut jauh berada di bawah biaya pokok produksi yang kini diperkirakan mencapai Rp22.000–Rp23.000 per kilogram. Selisih harga yang cukup besar membuat banyak peternak mengalami kerugian setiap kali panen. Jika kondisi ini tidak segera membaik, sebagian pelaku usaha dikhawatirkan kesulitan mempertahankan kegiatan produksinya.
Stabilitas Harga Menjadi Kunci Keberlanjutan Industri Perunggasan
Upaya menjaga keseimbangan antara produksi dan permintaan menjadi langkah penting untuk memperkuat industri perunggasan nasional. Penyerapan livebird, pengendalian produksi DOC, serta koordinasi antar pelaku usaha diharapkan mampu memperbaiki kondisi pasar secara bertahap. Dengan harga yang kembali stabil, peternak memiliki peluang memperoleh keuntungan yang lebih layak sekaligus menjaga keberlangsungan produksi. Pada akhirnya, kebijakan tersebut tidak hanya melindungi peternak, tetapi juga mendukung ketersediaan pasokan daging ayam bagi masyarakat dalam jangka panjang.


