Studi Temukan Kecerdasan Buatan Dapat Bantu Deteksi Dini Penurunan Kognitif Lewat Catatan Medis Dokter
FaktaSehari – Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kecerdasan buatan (AI) memiliki kemampuan untuk mendeteksi penurunan fungsi kognitif lebih awal daripada diagnosis dokter. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal npj Digital Medicine dan menjadi sorotan karena dinilai bisa membuka peluang besar dalam skrining demensia sejak tahap paling awal.
Menurut laporan dari Live Science, teknologi AI tersebut bukan ditujukan untuk menggantikan peran dokter. Sebaliknya, fungsinya adalah menyaring pasien berdasarkan pola-pola mencurigakan dalam catatan medis yang sering terlewat dalam pemeriksaan rutin. Deteksi dini seperti ini dinilai sangat penting, terutama mengingat terbatasnya jumlah dokter spesialis neurologi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Catatan Harian Dokter Menjadi Sumber Data Penting untuk AI
Menariknya, studi ini menyoroti bahwa tanda awal penurunan kognitif seringkali tidak muncul dalam diagnosis formal. Sebaliknya, petunjuk awal biasanya tersembunyi dalam catatan naratif yang dibuat dokter selama interaksi klinis. Misalnya berupa keluhan lupa, kebingungan ringan, perubahan perilaku, atau kekhawatiran yang diungkapkan oleh keluarga pasien.
AI kemudian dirancang untuk memindai ribuan catatan seperti ini, mencari pola yang selama ini luput dari perhatian karena tidak dicatat sebagai masalah utama dalam kunjungan pasien. Dengan kata lain, teknologi ini bertindak sebagai pembaca sinyal-sinyal kecil yang tersembunyi di balik teks panjang catatan medis.
Baca Juga : Presiden FIFA Tanggapi Seruan Boikot Piala Dunia 2026 dengan Pernyataan Kuat
AI Dirancang Sebagai Sistem Peringatan Dini, Bukan Alat Diagnosis
Dr. Lidia Moura, profesor neurologi dari Massachusetts General Hospital, menjelaskan bahwa sistem AI ini bukanlah alat diagnosis demensia. Tujuannya murni sebagai sistem pendeteksi dini yang memberi sinyal pada dokter jika ada kemungkinan penurunan kognitif berdasarkan data historis pasien.
“AI tidak mengambil keputusan klinis. Ia hanya membantu dokter mengenali pasien mana yang perlu diperhatikan lebih lanjut,” ujar Moura. Hal ini dinilai sangat membantu, apalagi di rumah sakit dengan beban kerja tinggi dan waktu konsultasi yang terbatas.
Cara Kerja AI: Menggabungkan Agen-Agen Analisis dalam Model Bahasa Besar
Sistem AI yang dikembangkan dalam studi ini menggunakan pendekatan agentic, yaitu gabungan beberapa agen AI yang saling memvalidasi hasil analisis satu sama lain. Teknologi ini dibangun di atas model bahasa besar (large language model) bernama Meta Llama 3.1.
Untuk melatih sistem, para peneliti menggunakan tiga tahun data rekam medis dari jaringan rumah sakit. Data tersebut meliputi kunjungan klinik, catatan perkembangan pasien, hingga ringkasan rawat inap. Setelah dilatih secara berulang, AI dapat mengidentifikasi pola teks yang berkaitan dengan tanda-tanda awal gangguan kognitif.
Hasil Pengujian: AI Tunjukkan Tingkat Akurasi Tinggi
Dalam uji coba awal, sistem AI ini mencatat akurasi sekitar 91% jika dibandingkan dengan penilaian manual dokter. Namun, saat diuji pada data dari kondisi klinis yang lebih realistis, sensitivitas sistem menurun menjadi 62%. Artinya, AI masih melewatkan sebagian kasus yang telah dikenali oleh dokter.
Perbedaan ini justru menjadi bahan evaluasi lebih lanjut. Dalam beberapa kasus, hasil analisis AI ternyata dianggap lebih tepat oleh panel ahli independen dibandingkan penilaian awal dokter.
Saat Pendapat AI Berbeda dengan Dokter, Siapa yang Lebih Akurat?
Dalam situasi di mana hasil AI bertentangan dengan diagnosis dokter, para peneliti meminta penilaian dari pakar klinis independen. Mereka tidak diberi tahu apakah analisis berasal dari dokter atau AI. Hasilnya mengejutkan: dalam 44% kasus, para pakar justru memilih hasil AI sebagai yang paling akurat.
Hossein Estiri, salah satu penulis studi dan profesor neurologi, mengungkap bahwa AI cenderung lebih konsisten dan ketat dalam menerapkan definisi medis tentang penurunan kognitif. “AI tidak mudah terpengaruh bias atau tekanan waktu seperti yang bisa dialami manusia,” ujarnya.
Catatan Penting: Teknologi Ini Belum Sempurna dan Masih Terbatas
Meski menjanjikan, para ahli juga menyadari bahwa sistem ini belum sempurna. Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan bahwa peringatan dari AI benar-benar sampai ke dokter yang tepat dan bisa segera ditindaklanjuti.
Julia Adler-Milstein dari University of California, San Francisco, menekankan bahwa manfaat AI sangat tergantung pada implementasinya di dunia nyata. “Kalau sistem hanya memberi sinyal tapi tidak ada tindakan, maka fungsinya akan percuma,” ujarnya.
Selain itu, sistem ini baru diuji di satu jaringan rumah sakit. Hal ini membuat validitasnya di lingkungan rumah sakit lain masih perlu dibuktikan lebih lanjut.
Belum Digunakan di Klinik, Tapi Sudah Siap Jalankan Fungsi ‘Diam-Diam’
Saat ini, sistem AI tersebut belum diterapkan secara langsung di ruang klinik. Hossein Estiri menjelaskan bahwa teknologi ini didesain untuk berjalan diam-diam di balik sistem rekam medis elektronik (EMR). Dengan begitu, dokter tidak perlu berinteraksi langsung dengan AI, melainkan hanya menerima notifikasi atau catatan tambahan jika ada pasien yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis karena tidak mengganggu alur kerja harian tenaga medis, namun tetap memberikan nilai tambah signifikan dalam hal deteksi dini.
Kolaborasi Manusia dan Mesin untuk Deteksi Demensia Lebih Awal
Penelitian ini menandai babak baru dalam kolaborasi antara teknologi dan dunia medis. Dengan kemampuan AI membaca sinyal-sinyal kecil dari catatan dokter yang sering terlewat, sistem ini membuka peluang baru untuk deteksi dini demensia dan gangguan kognitif lainnya.
Namun, teknologi hanyalah alat bantu. Peran dokter tetap krusial dalam mengambil keputusan akhir. Yang terpenting adalah bagaimana sistem ini bisa diintegrasikan dengan baik ke dalam praktik klinis tanpa menghilangkan sentuhan manusia dalam pelayanan kesehatan.


