Rayakan HUT ke-76, BTN Catat Laba Bersih Konsolidasian Rp3,5 Triliun Sepanjang 2025
FaktaSehari – Memasuki usia ke-76 pada 9 Februari 2026, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sukses membukukan kinerja konsolidasian yang solid sepanjang tahun 2025. Laba bersih BTN tercatat menembus Rp3,5 triliun, tumbuh 16,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp3,0 triliun.
Peningkatan laba ini diperkuat oleh pertumbuhan total aset yang mencapai Rp527,8 triliun, naik 12,4 persen secara year-on-year (YoY). Capaian tersebut sekaligus menjadi cermin keberhasilan BTN menjaga stabilitas pertumbuhan di tengah tantangan makroekonomi yang tidak mudah.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan bahwa performa gemilang tersebut merupakan hasil dari transformasi menyeluruh di berbagai lini bisnis.
Kredit Perumahan Masih Jadi Tulang Punggung Pertumbuhan
Kontribusi utama dalam ekspansi bisnis BTN masih berasal dari sektor pembiayaan perumahan. Hingga akhir 2025, BTN mencatatkan penyaluran kredit konsolidasian sebesar Rp400,6 triliun, meningkat 11,9 persen YoY dari tahun sebelumnya Rp358,9 triliun.
Dari jumlah tersebut, kredit pemilikan rumah (KPR) menyumbang angka terbesar, yakni Rp328,4 triliun. KPR subsidi tumbuh 10 persen menjadi Rp191,2 triliun, sementara KPR non-subsidi meningkat 6,7 persen menjadi Rp113,0 triliun.
Nixon menyebut, salah satu pendorong utama pertumbuhan adalah penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) yang mencapai Rp2,6 triliun. BTN menjadi bank dengan kontribusi terbesar terhadap program tersebut secara nasional.
Baca Juga : Kursor Laptop Mendadak Menghilang? Ini Langkah Cepat Mengatasinya
“KPP kami lihat sebagai mesin pertumbuhan baru, karena memiliki margin lebih tinggi dibandingkan skema KPR FLPP,” ujarnya.
Pendapatan Bunga Bersih Melonjak, Efisiensi Meningkat
Dari sisi pendapatan, BTN mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp18,4 triliun, tumbuh 57,5 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp11,7 triliun. Peningkatan ini ditopang naiknya pendapatan bunga sebesar 23 persen menjadi Rp36,3 triliun, sementara beban bunga hanya naik tipis 0,4 persen menjadi Rp17,9 triliun.
Hal ini berkontribusi langsung pada penguatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang melonjak ke level 4,2 persen dari sebelumnya 2,9 persen.
“Transformasi proses bisnis dan strategi pendanaan berbiaya murah menjadi kunci utama penguatan profitabilitas ini,” terang Nixon.
Dana Pihak Ketiga Naik Dua Digit, Didukung Bale by BTN
Kepercayaan nasabah juga tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat 14,6 persen YoY menjadi Rp437,4 triliun. Menariknya, pertumbuhan ini turut didorong oleh akselerasi digitalisasi layanan melalui platform Bale by BTN.
Pengguna superapp Bale meningkat pesat hingga 66,1 persen menjadi 3,7 juta pengguna pada akhir 2025. Jumlah transaksinya melonjak 79,2 persen menjadi 2,2 miliar, dengan nilai transaksi mencapai Rp103,6 triliun, naik 27,7 persen dari tahun sebelumnya.
Saldo pengguna Bale juga memberikan kontribusi signifikan terhadap DPK BTN, mencapai Rp22,8 triliun, naik 15,3 persen dari tahun lalu. Nixon menambahkan, rata-rata saldo pengguna Bale tergolong tinggi, terutama karena layanan ini terintegrasi dengan kebutuhan finansial keluarga.
“Kami akan terus mendorong Bale menjadi superapp utama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, perumahan, dan gaya hidup,” tegasnya.
Kualitas Aset Membaik, Permodalan Semakin Kuat
BTN juga mencatat peningkatan kualitas kredit sepanjang tahun 2025. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 3,1 persen, dari 3,2 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, NPL Coverage naik ke level 123,9 persen, dari sebelumnya 115,4 persen.
Sebagai upaya mitigasi risiko dan memperkuat ekspansi, rasio kecukupan modal (CAR) BTN juga meningkat menjadi 20,9 persen, dari sebelumnya 18,5 persen.
“Dengan perbaikan ini, kami optimis dapat menurunkan NPL hingga di bawah 3,0 persen pada akhir 2026,” ungkap Nixon.
Anak Usaha Syariah BSN Tunjukkan Pertumbuhan Signifikan
Selain bisnis inti konvensional, BTN juga fokus mengembangkan unit usaha syariah melalui pendirian Bank Syariah Nasional (BSN). Resmi beroperasi penuh pada 2025, BSN kini menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia.
BSN mencatat total aset Rp73 triliun, naik 20,5 persen YoY. Penyaluran pembiayaan juga naik 25 persen menjadi Rp55 triliun, sedangkan DPK tumbuh 18,4 persen menjadi Rp59 triliun.
Nixon menyebut kehadiran BSN adalah bagian dari strategi Beyond Mortgage, menjadikan BTN sebagai bank konsumer berbasis ekosistem, tidak hanya fokus pada KPR tapi juga layanan finansial lengkap.
Komitmen BTN: Solusi Keuangan Terintegrasi dan Pendorong Ekonomi Nasional
Dengan pencapaian kinerja 2025 yang mengesankan, BTN semakin mantap melangkah sebagai agen pembangunan sektor perumahan nasional. Visi jangka panjang perseroan adalah menjadi bank konsumer unggulan yang tidak hanya memberi solusi kepemilikan rumah, tapi juga layanan finansial lengkap untuk seluruh lapisan masyarakat.
“Melalui strategi Beyond Mortgage, kami ingin menghadirkan value creation yang nyata bagi rakyat Indonesia, serta memperkuat kontribusi kami terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Nixon.


