Kolaborasi Negara ASEAN dalam Pengendalian Demam Dengue untuk Masa Depan yang Lebih Sehat

Kolaborasi Negara ASEAN dalam Pengendalian Demam Dengue untuk Masa Depan yang Lebih Sehat

FaktaSehari – Demam dengue adalah penyakit yang terkait erat dengan faktor lingkungan, nyamuk sebagai vektor penyakit, dan manusia. Oleh karena itu, pengendalian penyakit ini memerlukan kolaborasi lintas negara. Untuk itu, Forum Regional tentang Pencegahan dan Pengendalian Dengue diselenggarakan di Jakarta pada 9-10 Februari 2026. Forum ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama negara-negara ASEAN dalam menangani dengue yang masih menjadi masalah utama kesehatan di kawasan ini.

Indonesia, sebagai negara dengan kasus dengue tertinggi di Asia Tenggara, memiliki peran penting dalam kolaborasi ini. Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, menjelaskan bahwa forum ini sangat tepat untuk memperkuat penanggulangan dengue, mengingat kawasan ASEAN memiliki iklim serupa dan tingkat mobilitas penduduk yang tinggi.

Pentingnya Kolaborasi untuk Mencapai Target Zero Dengue Deaths by 2030

Forum ini memberi kesempatan bagi masing-masing negara untuk memaparkan strategi pengendalian dengue yang telah berhasil diterapkan. Selain itu, mereka juga menyampaikan usulan kebijakan untuk menghadapi tantangan penyakit ini. Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Prof. Asnawi Abdullah, menegaskan pentingnya kekompakan negara-negara ASEAN. Menurutnya, meskipun perubahan cuaca sulit untuk dikendalikan, perlindungan terhadap masyarakat bisa dilakukan dengan inovasi-inovasi baru seperti teknologi Wolbachia dan vaksin dengue.

“Kita tidak bisa mengatur cuaca, tapi kita bisa melindungi warga dengan cara yang lebih cerdas,” kata Asnawi.

Baca Juga : Pemerintah Siapkan Perpres Penghapusan Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan Kelas III

Penurunan Angka Kematian Dengue di Indonesia

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam angka kematian dengue. Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian akibat dengue di Indonesia turun dari 0,96 persen pada 2021 menjadi 0,42 persen pada 2025.

Asnawi Abdullah menyebutkan, meskipun jumlah kasus dengue masih tinggi, penurunan CFR menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang meninggal. Penurunan ini terjadi meskipun ada tantangan dari faktor iklim dan urbanisasi.

“Angka ini menunjukkan bahwa meskipun dengue masih tinggi, hanya sedikit orang yang meninggal,” tambah Asnawi.

Forum Regional sebagai Langkah Strategis Pengendalian Dengue

Forum ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari 10 negara ASEAN, pembuat kebijakan, serta organisasi regional dan global. Pencapaian Zero Dengue Deaths by 2030 hanya bisa terwujud melalui kepemimpinan kolektif dan inovasi berbasis sains. Forum ini juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

Pencegahan dengue, menurut peserta forum, memerlukan komitmen bersama. Tidak hanya bergantung pada satu solusi, tetapi pada kombinasi berbagai intervensi, seperti penguatan surveilans, pengendalian vektor, edukasi masyarakat, dan pemanfaatan teknologi canggih.

Kolaborasi ASEAN: Kunci Keberhasilan Pengendalian Dengue

Forum ini menegaskan bahwa kolaborasi antar negara ASEAN adalah kunci utama dalam mengatasi masalah dengue di kawasan. Melalui kerja sama yang solid, negara-negara ASEAN dapat mengurangi dampak dengue dan mewujudkan target Zero Dengue Deaths by 2030. Pendekatan ini mengharuskan adanya kepemimpinan kolektif yang melibatkan semua sektor terkait.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan pencegahan dan pengendalian dengue akan lebih efektif dan berdampak positif bagi kesehatan masyarakat di ASEAN.