China Rebut Kembali Posisi Superkomputer Tercepat Dunia dari Amerika Serikat

China Rebut Kembali Posisi Superkomputer Tercepat Dunia dari Amerika Serikat

FaktaSehari – Persaingan teknologi global kembali memasuki babak baru setelah China berhasil merebut kembali posisi sebagai pemilik superkomputer tercepat di dunia. Sistem terbaru bernama LineShine resmi menduduki peringkat pertama dalam daftar Top500 edisi Juni 2026. Prestasi tersebut mengakhiri dominasi Amerika Serikat yang sebelumnya dipegang oleh El Capitan. Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan kemajuan teknologi komputasi China, tetapi juga memperlihatkan kemampuan negara tersebut dalam mengembangkan teknologi mutakhir di tengah berbagai pembatasan dari Amerika Serikat.

LineShine Resmi Menjadi Superkomputer Nomor Satu Dunia

LineShine berhasil meraih posisi teratas berdasarkan hasil pengujian Linpack yang digunakan sebagai standar resmi dalam daftar Top500. Superkomputer ini mencatat performa sekitar 2,198 petaflop atau setara dengan 2,2 exaflop. Angka tersebut melampaui El Capitan yang sebelumnya memimpin dengan performa sekitar 1,809 petaflop. Dengan pencapaian tersebut, China kembali menduduki posisi puncak untuk pertama kalinya sejak tahun 2017 dan memperkuat posisinya dalam persaingan teknologi global.

Top500 Menjadi Tolok Ukur Performa Superkomputer Dunia

Daftar Top500 telah menjadi acuan internasional sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1993. Pemeringkatan ini diperbarui dua kali setiap tahun untuk mengukur kemampuan komputasi berbagai superkomputer di seluruh dunia. Pengujian dilakukan menggunakan benchmark Linpack yang menguji kecepatan sistem dalam menyelesaikan perhitungan matematika berskala besar. Oleh karena itu, posisi teratas dalam daftar Top500 selalu menjadi simbol keunggulan teknologi sebuah negara.

Baca Juga : Digitalisasi UMKM Indonesia Masih Hadapi Tantangan Besar Menurut DANA

Unggul dalam Pengujian Aplikasi Ilmiah Nyata

Keunggulan LineShine tidak hanya terlihat pada benchmark Linpack. Superkomputer ini juga berhasil memimpin pengujian High Performance Conjugate Gradient atau HPCG. Pengujian tersebut dirancang untuk mengukur performa sistem ketika menjalankan simulasi ilmiah yang kompleks. LineShine memperoleh skor sekitar 22 HPCG-Petaflop per detik dan berhasil mengungguli El Capitan, Fugaku dari Jepang, serta Frontier milik Amerika Serikat. Hasil tersebut menunjukkan kemampuan LineShine dalam menangani beban kerja ilmiah yang lebih realistis.

Menggunakan Arsitektur Tanpa GPU Eksternal

Salah satu inovasi terbesar LineShine adalah pendekatan desain yang berbeda dari kebanyakan superkomputer modern. Sistem ini tidak menggunakan GPU eksternal buatan Nvidia maupun AMD. Sebagai gantinya, fungsi komputasi berperforma tinggi telah diintegrasikan langsung ke dalam prosesor LingKun LX2 dan akselerator LingQi yang dikembangkan di China. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.

Didukung Jutaan Inti Komputasi Berteknologi Arm

LineShine dibangun menggunakan sekitar 13,79 juta inti komputasi yang tersebar di 90 kabinet perangkat keras. Seluruh sistem memanfaatkan arsitektur instruksi Arm yang selama ini banyak digunakan pada perangkat seluler maupun pusat data modern. Meski pengembang belum mengungkap perusahaan pembuat chip maupun proses manufakturnya, penggunaan arsitektur Arm menunjukkan bahwa teknologi tersebut kini semakin fleksibel untuk berbagai kebutuhan komputasi berskala besar.

Tetap Berkembang di Tengah Tekanan Amerika Serikat

Keberhasilan China menjadi semakin menarik karena diraih di tengah pembatasan ekspor teknologi yang diterapkan Amerika Serikat. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah AS membatasi penjualan GPU kecerdasan buatan dari Nvidia dan AMD kepada China. Selain itu, akses terhadap teknologi semikonduktor canggih juga diperketat. Meski menghadapi tantangan tersebut, China tetap mampu mengembangkan superkomputer dengan performa kelas dunia menggunakan teknologi yang dikembangkan secara mandiri.

Digunakan untuk Penelitian Ilmiah Berskala Besar

Saat ini, LineShine dimanfaatkan untuk berbagai proyek penelitian penting. Superkomputer tersebut digunakan dalam simulasi sistem Bumi yang mencakup atmosfer, lautan, daratan, hingga lapisan es. Selain itu, sistem ini juga mendukung penelitian mengenai simulasi otak manusia yang membutuhkan kapasitas komputasi sangat tinggi. Berkat kemampuannya, LineShine diharapkan mampu mempercepat berbagai penelitian ilmiah yang sebelumnya memerlukan waktu jauh lebih lama.

Persaingan Superkomputer Diperkirakan Semakin Ketat

Keberhasilan LineShine menjadi superkomputer tercepat di dunia diperkirakan akan semakin memperketat persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat. Kedua negara terus berinvestasi besar dalam pengembangan komputasi berperforma tinggi untuk mendukung kecerdasan buatan, riset ilmiah, hingga keamanan nasional. Dengan inovasi yang terus berkembang, persaingan merebut posisi teratas dalam daftar Top500 diprediksi akan semakin menarik pada tahun-tahun mendatang.