Flood-Eye Semarang Manfaatkan AI untuk Deteksi Potensi Banjir

Flood-Eye Semarang Manfaatkan AI untuk Deteksi Potensi Banjir

Fakta Sehari – Flood-Eye Semarang mulai diterapkan untuk membantu mendeteksi potensi banjir bandang lebih dini. Sistem ini menggabungkan kecerdasan buatan atau AI dengan Internet of Things atau IoT. Pemasangannya antara lain terlihat di bantaran anak sungai Kali Babon, Meteseh, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Bagi warga yang tinggal dekat aliran sungai, informasi tepat waktu dapat membantu persiapan menghadapi perubahan kondisi. Karena itu, pengembangan Flood-Eye diarahkan untuk memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan. Teknologi tersebut menjadi alat pendukung dalam membaca risiko, sementara penanganan bencana tetap membutuhkan koordinasi petugas dan masyarakat.

Sensor Sungai dan AI Mengolah Informasi Bersama

Flood-Eye merupakan sistem peringatan dini yang memadukan sensor sungai, data satelit, pemodelan banjir, dan AI. Setiap komponen memiliki peran dalam membangun gambaran kondisi wilayah yang dipantau. Sensor menyediakan informasi dari lapangan, sedangkan pemodelan membantu menganalisis kemungkinan perkembangan situasi. Selanjutnya, hasil pemantauan ditampilkan melalui dashboard digital. Pendekatan terpadu ini berpotensi membantu petugas memahami perubahan dengan lebih terarah. Namun, kemampuan sistem tetap bergantung pada kualitas data dan proses pengujiannya. Kehadiran AI saja belum cukup untuk memastikan setiap prediksi akan selalu tepat.

Perubahan Muka Air Dipantau dalam Interval Lebih Rapat

Salah satu perhatian utama Flood-Eye adalah perubahan tinggi muka air Sungai Pengkol dan anak sungainya. Analisis dirancang menggunakan interval lebih rapat, dari per jam hingga per menit. Dengan demikian, perubahan kondisi dapat diamati secara lebih rinci daripada hanya melalui rangkuman harian. Bayangkan kenaikan air yang berlangsung di antara dua waktu pencatatan. Pemantauan lebih sering berpotensi membantu menangkap perubahan tersebut. Meski begitu, frekuensi pencatatan tidak sama dengan panjang waktu peringatan. Informasi yang tersedia belum menjelaskan berapa menit atau jam sebelumnya sistem dapat memperkirakan suatu kejadian.

Enam Titik Pemantauan Menjangkau Wilayah Rawan

Sistem Flood-Eye disebut telah disebar di enam titik pemantauan di Kecamatan Tembalang dan Pedurungan. Penempatan ini menjadi bagian dari upaya membaca kondisi aliran yang berkaitan dengan kawasan rawan banjir. Selain jumlah perangkat, keberhasilan pemantauan juga memerlukan pemeliharaan dan kesinambungan pengiriman data. Sebuah sensor akan lebih berguna ketika informasinya dapat diterima serta dipahami secara konsisten. Oleh sebab itu, pemasangan merupakan awal dari pekerjaan yang lebih panjang. Pengoperasian, pemeriksaan perangkat, dan evaluasi hasil perlu berjalan bersama agar manfaatnya dapat dipertahankan.

Baca Juga : TC Timnas Indonesia U-20 di Turki, Uji Kekuatan Lawan Yordania dan AS

Dashboard Mobile Membantu Akses Informasi Lapangan

Data pemantauan Flood-Eye dapat dilihat melalui dashboard yang diakses menggunakan perangkat mobile. Kemudahan ini memungkinkan informasi kondisi sungai diperiksa tanpa selalu berada di depan komputer. Dokumentasi pemasangan juga memperlihatkan petugas membuka tampilan pemantauan melalui ponsel. Namun, akses dashboard perlu dibedakan dari layanan notifikasi langsung kepada seluruh warga. Informasi yang tersedia belum menjelaskan secara rinci mekanisme penyebaran setiap peringatan. Karena itu, bagian penting berikutnya adalah memastikan hasil analisis dapat diteruskan melalui jalur komunikasi yang jelas dan mudah dipahami pihak yang membutuhkan.

Keterbatasan Data Hujan Masih Menjadi Tantangan

Pengembangan sistem ini masih menghadapi kekurangan data curah hujan dengan interval waktu pendek. Padahal, data tersebut dibutuhkan untuk melengkapi pembacaan perubahan kondisi sungai. Jika informasi masuk kurang rinci, analisis juga memiliki keterbatasan. Karena itu, peningkatan kemampuan Flood-Eye perlu diikuti penguatan pengumpulan data. Menurut penilaian penulis, tantangan ini menunjukkan bahwa teknologi canggih tetap membutuhkan fondasi yang baik. Sensor, konektivitas, dan pencatatan yang konsisten sama pentingnya dengan model AI. Perbaikan pada bagian dasar tersebut dapat membantu evaluasi kinerja sistem menjadi lebih terukur.

Kolaborasi Indonesia dan Australia Mendukung Pengembangan

Flood-Eye dikembangkan melalui kerja sama BPBD Kota Semarang, University of Wollongong Australia, dan Telkom University Indonesia. Proyek ini menjadi bagian dari program Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia atau KONEKSI. Berdasarkan informasi proyek, pelaksanaannya berlangsung sejak Juni 2025 hingga Desember 2026. Pengembangannya juga melanjutkan pengalaman proyek Tide-Eye yang didanai KONEKSI pada 2023. Kolaborasi tersebut mempertemukan penelitian dengan kebutuhan penanganan bencana di daerah. Sementara itu, keterlibatan pemerintah setempat menjadi penting agar hasil riset dapat digunakan dalam kegiatan pemantauan, bukan berhenti sebagai perangkat percobaan.

Potensi Manfaat bagi Warga Bergantung pada Tindak Lanjut

Para peneliti memperkirakan Flood-Eye berpotensi memberikan manfaat bagi sekitar 115.000 warga di kawasan rawan banjir Semarang. Angka tersebut menggambarkan potensi jangkauan, bukan jumlah orang yang sudah terbukti terlindungi dari suatu kejadian. Manfaatnya akan semakin berarti apabila informasi dapat diterima, dipahami, dan ditindaklanjuti. Karena itu, evaluasi akurasi perlu berjalan bersama latihan kesiapsiagaan serta koordinasi penyampaian peringatan. Bagi masyarakat, nilai utama sistem terletak pada tambahan kesempatan untuk bersiap. Data yang baik memperoleh arti nyata ketika membantu petugas dan warga mengambil tindakan yang sesuai.