Rupiah Mengakhiri Pekan dengan Penurunan Tipis, Terpaut Rp16.836 per Dolar AS

Rupiah Mengakhiri Pekan dengan Penurunan Tipis, Terpaut Rp16.836 per Dolar AS

FaktaSehari – Nilai tukar rupiah pada Jumat (13/2) sore tercatat di Rp16.836 per dolar AS, melemah tipis sebanyak 8 poin atau 0,05 persen dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini menandai akhir pekan yang kurang menggembirakan bagi mata uang Garuda.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), mencatatkan rupiah berada di Rp16.844 per dolar AS. Angka ini hampir serupa dengan posisi di pasar spot, mencerminkan kondisi pasar yang relatif stabil meski ada penurunan.

Mata Uang Asia Bergerak Beragam

Mata uang di Asia bergerak bervariasi. Yen Jepang menguat 0,51 persen, sementara baht Thailand naik 0,15 persen. Yuan China juga tercatat menguat 0,14 persen.

Namun, ada beberapa mata uang yang melemah. Peso Filipina turun 0,14 persen, sedangkan won Korea Selatan menguat 0,50 persen. Dolar Singapura juga tercatat naik 0,10 persen, sementara dolar Hong Kong tetap stagnan.

Mata Uang Negara Maju Menguat, Rupiah Tertinggal

Mata uang negara maju juga menguat. Euro naik 0,11 persen, poundsterling Inggris menguat 0,04 persen, dan franc Swiss meningkat 0,13 persen. Dolar Australia tercatat menguat 0,35 persen, sementara dolar Kanada naik 0,02 persen.

Baca Juga : Wayne Rooney Kritik Aksi Fans yang Ogah Potong Rambut Sebelum MU Menang 5 Kali Beruntun

Kenaikan ini menunjukkan bahwa dolar AS masih menjadi mata uang dominan di pasar global.

Faktor Global dan Domestik Penyebab Pelemahan Rupiah

Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Ketidakpastian suku bunga dan inflasi di Amerika Serikat masih menjadi isu utama yang mempengaruhi pasar.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa juga menambah kecemasan pasar. Situasi ini memperburuk volatilitas pasar keuangan dan mempengaruhi nilai tukar rupiah.

Di sisi domestik, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan sekitar 5 persen pada 2026 juga menjadi perhatian. Meskipun positif, pasar tetap waspada terhadap perkembangan ekonomi Indonesia.

Tantangan bagi Rupiah di Tengah Ketidakpastian

Secara keseluruhan, meski melemah, rupiah masih relatif stabil. Namun, tantangan global dan ketidakpastian domestik membuat pergerakan rupiah cukup volatile.

Pasar berharap langkah-langkah kebijakan yang bisa menstabilkan nilai tukar rupiah. Mengingat faktor eksternal dan internal yang memengaruhi, perhatian besar akan tetap tertuju pada kondisi ekonomi Indonesia dan situasi geopolitik global.