Benarkah Tidur Lagi Setelah Sahur Bisa Merusak Otak? Ini Penjelasan Dokter

Benarkah Tidur Lagi Setelah Sahur Bisa Merusak Otak? Ini Penjelasan Dokter

FaktaSehari – Perubahan pola tidur merupakan hal yang hampir tak terhindarkan selama bulan Ramadan. Banyak orang yang tidur lebih larut malam, bangun lebih awal untuk sahur, lalu tidur kembali sebelum memulai aktivitas pagi. Kondisi ini sering menimbulkan kekhawatiran, terutama mengenai apakah pola tidur yang terputus seperti ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan, bahkan disebut-sebut dapat memicu masalah kesehatan serius seperti stroke.

Dokter spesialis saraf, Dr. Zicky Yombana, memberikan penjelasan mengenai kaitan antara pola tidur yang terputus dengan kesehatan otak. Ia menjelaskan bahwa meskipun tubuh kita beristirahat saat tidur, otak tetap bekerja.

Tidur dan Hubungannya dengan Kesehatan Otak

Menurut Dr. Zicky, tidur memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesehatan otak. Meskipun tubuh beristirahat, otak tetap aktif dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk fase tidur dan mimpi.

“Ketika tidur, tidak semua organ benar-benar istirahat. Otak tetap bekerja, mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk saat fase tidur dan mimpi,” jelas Dr. Zicky dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com, Rabu (11/3).

Perubahan Pola Tidur Selama Ramadan

Pada bulan Ramadan, perubahan pola tidur terjadi karena pergeseran waktu tidur dan bangun. Hal ini dapat mempengaruhi durasi tidur dan kualitas tidur seseorang.

Baca Juga : Qualcomm Perkenalkan Arduino Ventuno Q, Komputer Mini Baru untuk Proyek Robot dan AI

“Pada bulan Ramadan, umumnya terjadi pergeseran jam tidur. Ini menyebabkan perubahan dalam durasi tidur serta kualitas tidur,” ujar Dr. Zicky.

Meski demikian, perubahan pola tidur ini biasanya tidak memberikan dampak buruk yang serius bagi kesehatan. Ia menyarankan agar masyarakat tidak tidur terlalu larut setelah salat tarawih, untuk memastikan tidur yang cukup sebelum bangun untuk sahur.

“Setelah salat tarawih, sebaiknya langsung tidur, karena kita harus bangun lebih pagi untuk sahur,” jelas Dr. Zicky.

Pola Tidur Terpecah Setelah Sahur, Apakah Berbahaya?

Beberapa orang memiliki kebiasaan tidur kembali setelah sahur, meskipun hanya sebentar. Menurut Dr. Zicky, pola tidur seperti ini dikenal dengan istilah split sleep. Meskipun ini dapat menyebabkan rasa kantuk yang lebih mudah muncul di siang hari, ia menjelaskan bahwa pola tidur terputus tidak langsung berbahaya bagi otak, asalkan tubuh mendapat energi yang cukup melalui sahur dan berbuka.

“Rasa kantuk yang muncul bukan disebabkan oleh puasa, tetapi oleh pola tidur yang terputus,” tambahnya. Namun, ia menegaskan bahwa kebiasaan tidur yang terputus ini tidak akan menimbulkan masalah serius jika asupan energi tubuh tetap terjaga melalui makanan sahur dan berbuka.

Pola Tidur yang Buruk dan Risiko Stroke

Dr. Zicky menjelaskan bahwa meskipun pola tidur yang buruk bisa meningkatkan risiko beberapa masalah kesehatan dalam jangka panjang, seperti tekanan darah tinggi, peradangan kronis, serta gangguan metabolisme, hal ini tidak serta-merta menyebabkan stroke, terutama jika pola tidur tersebut hanya terjadi selama Ramadan.

“Jika pola tidur seperti ini hanya terjadi saat berpuasa, risiko stroke tidak meningkat. Namun, jika kebiasaan ini berlanjut di luar bulan Ramadan dalam jangka panjang, risiko itu bisa meningkat,” katanya.

Dr. Zicky juga menambahkan bahwa stroke tidak hanya dipengaruhi oleh pola tidur, tetapi juga oleh gaya hidup secara keseluruhan, seperti merokok, kurangnya olahraga, dan pola makan yang tidak sehat.

Tips Menjaga Kualitas Tidur Selama Puasa

Untuk menjaga kualitas tidur dan kesehatan selama Ramadan, Dr. Zicky memberikan beberapa saran. Orang dewasa disarankan untuk tidur sekitar 6-7 jam sehari, yang bisa dibagi antara tidur malam dan tidur siang.

Berikut beberapa cara untuk menjaga kualitas tidur selama puasa:

  • Tidur lebih awal setelah salat tarawih.
  • Menghindari kafein pada malam hari.
  • Memenuhi kebutuhan cairan dengan banyak air putih saat sahur dan berbuka.
  • Melakukan olahraga ringan menjelang berbuka.

Menurut Dr. Zicky, tubuh manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan rutinitas selama Ramadan, asalkan kita mengatur pola hidup dengan baik.

“Tubuh manusia bisa beradaptasi. Selama kita mengatur pola hidup dengan baik, sebenarnya tidak ada masalah,” tutupnya.

Dengan menjaga kualitas tidur dan pola hidup yang sehat, puasa di bulan Ramadan bisa dijalani dengan lancar tanpa menimbulkan masalah kesehatan, termasuk bagi kualitas otak dan tubuh secara keseluruhan.