Starship SpaceX Siap Terbang ke Orbit, Peluncuran Dijadwalkan Malam Ini
Fakta Sehari – SpaceX bersiap menjalankan salah satu penerbangan penting dalam pengembangan Starship. Flight 14 dijadwalkan meluncur dari Starbase, Texas, pada Senin, 28 September 2026. Jendela peluncuran selama 75 menit dibuka pada pukul 12.15 UTC atau sekitar 19.15 WIB. Berbeda dari penerbangan sebelumnya, peluncuran Starship SpaceX kali ini dirancang untuk mencoba memasuki orbit Bumi. Misi tersebut juga akan membawa muatan operasional berupa 26 satelit Starlink V3. Karena itu, Flight 14 bukan sekadar pengujian roket dari titik peluncuran menuju lokasi pendaratan. SpaceX akan menguji rangkaian operasi yang jauh lebih panjang, mulai dari peluncuran, penyisipan orbit, pelepasan satelit, hingga proses keluar dari orbit.
Flight 14 Menjadi Percobaan Orbital Pertama
Starship telah menjalani rangkaian penerbangan terintegrasi sejak 2023. Namun, lintasan penerbangan sebelumnya dirancang dengan profil suborbital. Flight 14 membawa target berbeda. Jika seluruh tahap berjalan sesuai rencana, upper stage Starship akan melakukan pembakaran mesin untuk memasuki orbit stabil. Inilah yang membuat misi tersebut menjadi percobaan orbital pertama dalam program Starship. Pencapaian orbit juga membutuhkan kecepatan horizontal yang sangat tinggi agar wahana terus mengelilingi Bumi tanpa segera jatuh kembali ke atmosfer. Karena itu, keberhasilan tahap ini akan menjadi tonggak teknis penting sebelum SpaceX melanjutkan pengembangan operasi Starship yang lebih kompleks.
Starship Akan Membawa 26 Satelit Starlink V3
Flight 14 juga dirancang menjadi penerbangan Starship pertama yang menempatkan satelit operasional ke orbit. Muatannya terdiri dari 26 satelit Starlink Version 3. Jika Starship berhasil melakukan penyisipan orbit, proses pelepasan satelit direncanakan dimulai sekitar 34 menit setelah lepas landas. Pelepasan seluruh satelit diperkirakan berlangsung sekitar 30 menit. Misi ini sekaligus akan menjadi ujian nyata bagi sistem deployment Starship. Pada penerbangan sebelumnya, SpaceX telah menguji mekanisme pelepasan menggunakan simulator Starlink. Kini, sistem tersebut direncanakan menangani satelit operasional. Keberhasilan proses ini dapat membuka penggunaan Starship sebagai kendaraan peluncur satelit berkapasitas besar.
Target Orbit Berada Sekitar 275 Kilometer dari Bumi
Starship direncanakan memasuki orbit rendah Bumi pada ketinggian sekitar 275 kilometer. Wahana kemudian akan mengelilingi planet sekitar enam kali. Seluruh perjalanan diperkirakan berlangsung hampir 10 jam. Profil tersebut jauh berbeda dibandingkan penerbangan Starship sebelumnya yang menggunakan lintasan suborbital. Waktu yang lebih panjang memberikan kesempatan bagi SpaceX untuk menguji perilaku wahana ketika berada di lingkungan orbit. Selain itu, perusahaan dapat mengumpulkan data mengenai berbagai sistem selama fase penerbangan tersebut. Informasi yang diperoleh akan penting untuk pengembangan misi Starship berikutnya. Sebab, penerbangan menuju Bulan atau tujuan yang lebih jauh membutuhkan kemampuan beroperasi di ruang angkasa dalam durasi yang jauh lebih panjang.
Baca Juga: Tujuan Sama tapi Rute Google Maps Berbeda, Ternyata Ini Penyebabnya
Pembakaran Mesin di Antariksa Menjadi Tahap Penting
Salah satu bagian penting Flight 14 adalah pengoperasian mesin Raptor ketika Starship sudah berada di luar fase pendakian awal. Upper stage harus melakukan orbital insertion burn untuk mencapai orbit yang direncanakan. Selanjutnya, setelah menyelesaikan rangkaian orbit, Starship direncanakan melakukan deorbit burn menggunakan satu mesin Raptor. Pembakaran tersebut akan mengubah lintasan agar wahana kembali memasuki atmosfer secara terkendali. Rencana misi menempatkan deorbit burn hampir sembilan jam setelah peluncuran. Tahapan ini penting karena kemampuan menyalakan kembali mesin di ruang angkasa dibutuhkan untuk operasi orbital. Teknologi serupa juga akan menjadi dasar bagi berbagai manuver Starship pada misi yang lebih kompleks di masa depan.
Super Heavy Tidak Akan Kembali ke Menara Peluncuran
SpaceX tidak berencana menangkap Super Heavy Booster 21 menggunakan menara peluncuran pada Flight 14. Setelah memisahkan diri dari Starship, booster akan melakukan rangkaian manuver menuju area splashdown di Teluk Meksiko. Fokus pengujiannya mencakup proses peluncuran, pendakian, pemisahan tahap, boostback burn, dan landing burn. Sementara itu, Ship 41 akan melanjutkan perjalanan menuju orbit jika tahapan sebelumnya berjalan sesuai rencana. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Flight 14 lebih berfokus pada pengujian profil orbital dan operasi muatan. SpaceX dapat mengumpulkan data dari kedua bagian kendaraan tanpa menambahkan kompleksitas operasi penangkapan booster pada misi tersebut.
Starship Direncanakan Mengakhiri Misi di Samudra Pasifik
Setelah menyelesaikan sekitar enam orbit, Ship 41 tidak direncanakan mendarat kembali di Starbase. Wahana akan melakukan deorbit burn sebelum memasuki atmosfer Bumi. Jika seluruh rangkaian berjalan sesuai rencana, Starship kemudian melakukan reentry dan descent secara terkendali. Splashdown ditargetkan berlangsung di Samudra Pasifik, di sebelah barat pesisir Amerika Selatan. Keseluruhan misi diperkirakan berlangsung sekitar sembilan jam 52 menit. Fase masuk kembali tetap menjadi pengujian penting karena Starship harus menghadapi panas dan tekanan aerodinamis yang besar. Data dari tahap ini dapat digunakan untuk menyempurnakan sistem perlindungan termal serta kendali kendaraan pada penerbangan berikutnya.
Flight 14 Menguji Starship dalam Peran yang Lebih Nyata
Perbedaan besar Flight 14 dibandingkan sebagian besar penerbangan sebelumnya adalah keberadaan muatan operasional. Starship tidak lagi hanya menguji kemampuan dasar kendaraan. Jika mencapai orbit, roket akan menjalankan pekerjaan yang biasanya dilakukan kendaraan peluncur komersial, yakni menempatkan satelit ke ruang angkasa. Dari sisi pengembangan, perubahan tersebut penting. Sebuah sistem roket baru perlu membuktikan bahwa kendaraan bukan hanya mampu terbang, tetapi juga dapat mengantarkan muatan menuju tujuan yang direncanakan. Keberhasilan satu penerbangan tentu belum cukup untuk membuktikan keandalan jangka panjang. Namun, data Flight 14 dapat menunjukkan seberapa jauh Starship berkembang menuju operasi orbital yang lebih rutin.
Starlink V3 Membutuhkan Kapasitas Peluncuran Lebih Besar
Starlink V3 dirancang sebagai generasi satelit dengan kemampuan lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Ukurannya juga membuat Starship menjadi bagian penting dari strategi peluncuran satelit tersebut. Pada Flight 14, SpaceX memilih membawa 26 unit. Perusahaan sebelumnya menyatakan penerbangan Starship pada masa depan dapat membawa jumlah yang lebih besar. Karena itu, hubungan Starship dan Starlink cukup strategis. Starlink menyediakan muatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan frekuensi penerbangan. Sebaliknya, kapasitas Starship dapat membantu SpaceX mengirim satelit generasi baru dalam jumlah besar. Namun, rencana tersebut tetap bergantung pada keberhasilan pengujian kendaraan dan kemampuan SpaceX meningkatkan frekuensi penerbangan dengan aman.
Misi Bulan dan Mars Masih Menjadi Target Jangka Panjang
Starship dikembangkan sebagai sistem transportasi yang dapat digunakan kembali untuk membawa muatan dan manusia. NASA juga memilih varian Starship sebagai Human Landing System untuk program Artemis. Sementara itu, SpaceX memiliki tujuan jangka panjang menggunakan kendaraan tersebut untuk perjalanan menuju Mars. Namun, masih terdapat banyak teknologi yang perlu dibuktikan sebelum misi seperti itu dapat berlangsung. Operasi orbital, penggunaan kembali kendaraan, transfer propelan di ruang angkasa, serta penerbangan berdurasi panjang merupakan beberapa tantangannya. Karena itu, Flight 14 lebih tepat dipandang sebagai salah satu tahap dalam rangkaian pengembangan panjang. Keberhasilan mencapai orbit akan membuka ruang bagi pengujian berikutnya, bukan menandai berakhirnya proses pengembangan.
Flight 14 Bisa Menjadi Tonggak Baru Program Starship
Jika seluruh rencana terlaksana, peluncuran Starship SpaceX Flight 14 akan menggabungkan beberapa pencapaian dalam satu penerbangan. Starship akan mencoba mencapai orbit untuk pertama kalinya, membawa muatan operasional, melepaskan 26 Starlink V3, serta menjalankan deorbit burn sebelum kembali memasuki atmosfer. Namun, penerbangan uji tetap memiliki ketidakpastian. Jadwal peluncuran juga dapat berubah karena faktor teknis, cuaca, maupun kebutuhan operasional. Karena itu, target misi perlu dibedakan dari hasil yang benar-benar tercapai. Terlepas dari hasil akhirnya, data yang dikumpulkan selama Flight 14 akan menjadi bagian penting dari pengembangan kendaraan yang dirancang SpaceX untuk penerbangan orbital berkapasitas besar.


